Archive - Sep 2007
"Gaunku," gadis muda itu berkata dengan perlahan, kata-katanya meluncur lewat bibir yang bengkak. "Tolong berikan gaunku kepadaku. Aku mau memegangnya."
Umat Kristen yang mengelilingi tempat tidur gadis itu, sedih. Karena luka-luka dalam hebat yang dideritanya, para dokter tidak dapat melakukan apa pun baginya. Beberapa minggu yang lalu, umat percaya telah membelikannya sebuah gaun putih untuk merayakan hidup barunya dan hati yang murni dalam Yesus Kristus.
Ayahnya tidak suka dengan keputusan anak perempuannya untuk mengikuti Kristus. Suatu malam, dengan mabuk dan marah, ia menyerang anaknya, memukulinya dan menendanginya. Ia meninggalkannya tergeletak sekarat di jalanan berlumpur.
Ketika ia tidak muncul di gereja, teman-teman Kristennya menjenguknya. Mereka mendapati gadis itu tidak sadar, terbaring di tumpukan lumpur, gaunnya yang dulunya putih seperti salju sekarang penuh lumpur dan darah. Ia dibawa ke dokter, namun luka-lukanya terlalu parah.
Sekarang ia meminta gaunnya.
"Gaunnya rusak," teman-temannya memberitahu. Mereka mencoba mengalihkan perhatian dengan bicara hal yang lain karena berpikir bahwa gaun yang rusak itu hanya akan menjatuhkan semangat gadis itu jika ia melihatnya.
Dengan iman sederhana dari seorang anak berumur sepuluh tahun, ia berbisik, "Tolong, aku mau menunjukkannya kepada Yesus. Ia rela berdarah bagiku. Aku hanya ingin Yesus tahu bahwa aku rela berdarah bagi-Nya."
Tak lama sesudah itu, gadis muda itu meninggal.
Kata Bijak
Tuhan tidak tertarik dengan kemampuan kita. Kita mungkin punya talenta, berkemampuan, kaya, profesional, populer, dan orang yang tepat. Namun, menawarkan berbagai kemampuan kita dalam pelayanan kepada Tuhan tidaklah berarti apa-apa dibanding dengan mempersembahkan kesediaan kita. Kemampuan kita adalah tentang diri kita sendiri -- kita melihat diri kita sendiri melakukan ini dan itu bagi Tuhan. Sebaliknya, kesediaan kita adalah tentang Tuhan sendiri -- kita hanya bisa membayangkan bagaimana Tuhan menggunakan kita dalam pelayanan-Nya. Sedia bagi Tuhan berarti rela untuk taat berapa pun harganya. Tuhan mau kerelaan kita untuk melayani-Nya, apa pun kemampuan-kemampuan khusus kita. Bagaimana kita menjadi begitu rela? Itu juga merupakan karunia Tuhan. Ia memberi kita "mau" -- kerelaan atau kerinduan untuk bersedia bagi-Nya.
Buku
Devosi Total
Judul Kesaksian
Filipina: Seorang Gadis Muda
Penulis
The Voice of The Martyrs
Penerbit
KDP, Surabaya 2005
Halaman
33
Keterangan Lain
-
Tomas sudah mendengar secara langsung dari murid-murid lainnya yang telah melihat Tuan mereka dalam keadaan hidup. Paling tidak itulah yang dikatakan mereka. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya yang terluka oleh tombak Romawi itu, sekali-kali aku tidak percaya," kata Tomas.
Tomas tidak menginginkan mukjizat, tanda-tanda, dan mukjizat besar. Dia hanya ingin melihat bekas luka di tubuh Yesus -- simbol penderitaan-Nya. Meskipun Yesus sudah mengalahkan maut dan hidup dengan tubuh kemuliaan, Dia masih memiliki bekas luka itu -- sebagai pengingat akan harga yang telah dibayar-Nya.
Delapan hari kemudian, Yesus menampakkan diri lagi. Tomas pasti merasa bodoh sekali ketika dia berhadapan muka dengan sang Tuan. Dia menyadari betapa bodoh pernyataan yang telah diungkapkannya ketika murid-murid lain mengingatkan dia akan hal itu. Namun, Yesus tidak memarahi Tomas. Dengan memandang Tomas, Yesus mengulurkan tangan-Nya, mendorong dia untuk menjamah bekas luka dan menjadi percaya.
Bekas luka Yesus tetap ada setelah kebangkitan-Nya sebagai pengingat akan tubuh-Nya yang masih menderita. Karena meskipun Dia telah mengalahkan maut, tubuh-Nya di atas bumi ini masih menderita. Dan Dia dapat ikut merasakan bersama mereka dalam dunia ini yang juga menanggung bekas luka karena iman mereka kepada Kristus.
Tomas mengkhotbahkan Injil ke India dan Afrika Utara dan memertobatkan suku-suku yang menyembah patung matahari. Tomas menghentikan penyembahan berhala. Imam-imam dewa matahari menyeretnya ke hadapan raja. Tomas dilemparkan ke dalam perapian, tapi ia masih hidup. Ia dilempari tombak dan lembing hingga salah satu menusuknya dan ia mati di sana.
Bekas luka adalah guru kita -- mengingatkan kita akan pelajaran yang menyakitkan. Bekas luka ini sering kali tampak buruk dan tidak menarik dilihat oleh orang lain. Demikian pula dengan bekas luka penganiayaan dalam gereja yang sering kali tidak dibahas dalam persekutuan-persekutuan. Kita menganggapnya sebagai hal yang menakutkan. Sebuah misteri. Namun, tujuannya adalah untuk mengajar kita. Penganiayaan memunyai peran penting dalam rencana Allah yang indah bagi seluruh dunia agar dapat mendengar dan merespons Injil. Yesus tidak menyembunyikan bekas lukanya. Malahan, Dia mendorong Tomas agar menjamahnya untuk mengajarnya. Bekas luka-Nya adalah guru kita -- mengingatkan kita akan harga yang telah dibayarkan-Nya bagi keselamatan kita. Kita harus terus belajar, bukan mengabaikan, dari harga yang telah dibayar oleh gereja-gereja yang teraniaya.
Kata Bijak
Buku
Devosi Total
Judul Kesaksian
Yerusalem: Tomas
Penulis
The Voice of The Martyrs
Penerbit
KDP, Surabaya 2005
Halaman
8
Keterangan Lain
-

sabda.org |