Search the Site:

Archive - 2008 - content_kesaksian_buku

Aku Menemukan-Nya

Waktu itu saya selesai kuliah dan sedang menjalankan wajib militer. Pada waktu kuliah, saya bertemu dengan Saudara Soung Tran, yang kemudian menjadi teman terdekat saya. Di tahun terakhir masa kuliah di Perancis Selatan, kami tidak pernah membicarakan agama secara serius. Tetapi setelah saya meninggalkan Perancis dan bekerja di Inggris selama enam bulan, Saudara Soung selalu datang mengikuti kebaktian di Gereja Yesus Sejati Perancis karena ibunya adalah jemaat di gereja tersebut. Saudara Soung bercerita kepada saya bahwa gereja ini membawa damai sejahtera baginya dan saudara-saudarinya saling mengasihi. Saat saya kembali lagi ke Perancis, Saudara Soung memberitahukan bahwa dia telah memeroleh Roh Kudus, yang digambarkannya seperti air terjun yang dicurahkan ke dalam tubuh dan juga ditambahkan, "Itu sesuai dengan Alkitab, kamu harus datang!" Saya memercayai dia, tetapi setelah beberapa minggu, saya menjadi curiga. Saya ingin mengetahui apakah dia sedang dalam bahaya atau telah bergabung dalam sebuah sekte penganut ajaran sesat.

Pada bulan November 1995, saat pertama kali datang ke Gereja Yesus Sejati, saya mulai mencari tanda-tanda/ciri-ciri yang mencolok dari sebuah pemujaan, tapi saya hanya menemukan dinding putih. Saya coba perhatikan apakah gereja itu tamak akan uang, tapi saya menemukan tidak ada persembahan. Lalu saya mencari "Sang Guru" dan saya bertemu dengan seorang hamba Tuhan, yang sedang menyibukkan dirinya pada Alkitab. Saya perhatikan khotbahnya dengan baik, saya merasa bahwa khotbahnya sangat serius dan menarik. Tetapi pada saat berdoa, saya tidak dapat berkonsentrasi untuk berdoa karena suaranya berisik. Jadi saya memutuskan untuk menghadiri kebaktian tiga kali lagi untuk mendapat gambaran yang lebih baik. Saya pikir mungkin saja Yesus itu adalah Tuhan yang telah saya percayai selama ini. (Sebelumnya saya sudah percaya pada Tuhan, tetapi saya tidak tahu apakah Dia Yesus atau bukan?) Saya tahu bahwa hidup tanpa Tuhan adalah hampa dan tidak berarti. Saya memunyai perasaan bahwa saya sedang diuji oleh Tuhan. Kadang saya berbicara sendiri, "Malaikat, saya tahu engkau sedang mengawasiku." Saya selalu merasa bahwa hidup adalah suatu proses belajar dan harus melewati banyak ujian. Tetapi kepercayaan yang fanatik, ibadah yang berlebihan, dan kolekte yang memakai nama Tuhan telah mendiskreditkan agama Kristen di mata saya.

Ketika saya menghadiri kebaktian kedua kalinya, saya merasa sukacita ketika berdoa dan saya merasakan adanya suatu energi pada wajah saya. Saya melihat cahaya dan kepala saya seperti disoroti. Tadinya saya berpikir bahwa mereka memasang generator magnet di dinding. Tapi kemudian, saat saya berdoa di markas tentara, saya merasakan adanya pengalaman yang sama.

Lalu saya berpikir, mungkin Alkitab benar-benar berisi firman Allah. Saya ingin memastikan hal ini, jadi saya mengimani Matius 7:7, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu." Saya mulai berdoa dan membaca Alkitab.

Beberapa minggu kemudian, saya merasa bahwa saya masih lemah dalam iman, saya berdoa kepada Tuhan untuk menolong saya. Suatu hari, saat saya sedang duduk di meja kerja dan menutupi mata dengan tangan saya, saya mendapat penglihatan. Saya melihat sebuah gambar geometris yang besar seperti jaring yang indah. Langit penuh ribuan bintang berwarna biru, sebuah bintang hijau, sebuah bintang putih dan sebuah salib bernyalakan api. Awalnya saya tidak tahu, tapi kemudian saya mengerti bahwa api itu melambangkan Roh Kudus. Hari itu saya merasakan sesuatu yang hangat di atas kepala saya. Sesungguhnya perasaan itu selalu saya rasakan setiap kali saya memikirkan Yesus. Saya masih sering melihat cahaya itu ketika saya berdoa. Pada bulan Maret 1996, saya dibaptis bersama dengan Saudara Soung dan seorang saudari dari Jerman.

Saya mulai mengabarkan Injil kepada banyak orang di sekitar lingkungan saya, tapi kelihatannya tidak efektif. Setelah merenungkannya, akhirnya saya sadar bahwa saya masih belum menerima Roh Kudus, saya merasa bahwa saya bukanlah saksi Yesus. Saya menghentikan usaha saya untuk mengabarkan Injil, kemudian saya mendapat penglihatan lagi. Saya melihat sebuah kaki dari emas tapi saya tidak mengerti maksudnya. Satu minggu setelah saya berhenti mengabarkan Injil, pada hari Sabat, saya menerima baptisan Roh Kudus di rumah. Kemudian saya mengerti bahwa penglihatan kaki emas itu adalah melambangkan pesan Allah: "Betapa indahnya kaki-kaki yang mengabarkan kabar baik!" Oleh sebab itu, seharusnya kita tidak perlu bimbang untuk mengabarkan Injil selama kita memunyai kebenaran.

Kata Bijak

Buku

Buletin Warta Sejati Edisi 31/Juli -- Agustus 2002

Judul Kesaksian

Kesaksian Stephane

Penulis

Stephane

Penerbit

Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Indonesia, Jakarta

Halaman

29 -- 30

Keterangan Lain

--

Cina: Pendeta Li Dexian

"Aku akan berkhotbah hingga aku mati."

Pendeta Li Dexian baru beberapa menit berkhotbah ketika petugas Biro Keamanan Masyarakat masuk ke dalam rumah. Mereka menyeret Pendeta Li keluar dan memukulinya. Hal yang sama dilakukan pula kepada orang-orang lain dalam jemaat itu.

Di kantor polisi, penginjil itu dipukuli lagi hingga dia muntah darah. Para petugas memukuli wajahnya dengan Alkitabnya sendiri, meninggalkan dia dalam keadaan berdarah dan hampir pingsan di lantai sel penjara. Tujuh jam kemudian ketika dia dibebaskan, dia kembali melayani.

Kasempatan lain ketika dia berkhotbah di gereja itu, tujuh petugas Biro Keamanan Masyarakat datang dan meneriakkan tuduhan-tuduhan terhadap penginjil itu. Ketika mereka melihat kunjungan orang-orang Barat, mereka pergi, tapi lima belas menit kemudian kembali lagi bersama bala bantuan. Para petugas itu menyeret Li keluar dan mulai memukulkan kepalanya pada dinding batu.

"Mengapa kalian memukulinya?" teriak salah satu orang asing itu. "Bagaimana dengan `kebebasan beragama` yang kalian katakan ada di Cina?"

Petugas Biro Keamanan Masyarakat membawa orang-orang asing itu ke kantor polisi, bersama dengan wanita pemilik rumah di mana pertemuan itu berlangsung. Anak laki-laki wanita itulah yang telah memberitahu Biro Keamanan Masyarakat mengenai pertemuan itu.

Sejak penyerangan itu, pertemuan-pertemuan besar di desa itu tidak lagi diadakan, tapi gereja tetap berjalan. Sekarang mereka berkumpul dalam lebih dari empat puluh kelompok kecil, dan setiap minggu ada jiwa baru yang datang pada Kristus.

***

Seperti tetesan merkuri, setiap lawan mencoba untuk mengontrol gereja, mereka hanya akan membaginya menjadi kelompok-kelompok kecil. Gereja-gereja di negara-negara yang tertutup tidak pernah mengalami budaya Barat di mana gereja menjadi sangat besar dengan tanah seluas empat puluh hektar; namun, jumlah orang yang hadir terus bertambah. Malahan, satu gereja di Korea dihadiri oleh jauh lebih banyak orang dibandingkan dengan gabungan beberapa gereja besar di Barat. Tapi seperti strategi di Cina, jemaat Korea terdiri dari ribuan gereja rumah atau gereja sel. Apa yang kita pandang sebagai penghalang terhadap penginjilan ternyata adalah kesempatan. Jika Anda menghadapi perlawanan, apakah Anda mudah menyerah? Atau dapatkah Anda bertahan dan memeroleh cara lain agar berita Injil dapat disebarkan?

***

Kata Bijak

Buku

Devosi Total

Judul Kesaksian

China: Pendeta Li Dexian

Penulis

The Voice of The Martyrs

Penerbit

KDP, Surabaya 2005

Halaman

197

Keterangan Lain

--